Kalibrasi Kewarasan (Bagian 1): Lensa yang Buram dan Kepura-puraan yang Rapi
Setelah sekian lama membiarkan slot memori blog ini berdebu, saya kembali dengan satu kesadaran: dunia ternyata sudah semakin bising, jalanan semakin macet dan pandangan semakin kabur karena polusi. Selama masa vakum, saya lebih banyak menghabiskan waktu di balik lensa kamera—membidik objek, mencari fokus, dan mengatur komposisi. Namun, semakin saya mencoba memotret ‘kebenaran’ yang tampak di permukaan, semakin saya merasa ada yang hilang. Dunia yang kita anggap ‘waras’ ini seringkali justru melelahkan karena penuh dengan kepura-puraan yang rapi.
Kepura-puraan itu sudah jauh merasuk dalam kehidupan kita; menyelubung dan mendekap kita dalam sebuah kewajaran yang dimaklumi. Begitu halusnya, hingga saya, atau bahkan kita semua, mulai sulit membedakan mana yang otentik dan mana yang sekadar hasil manipulasi filter atau kecerdasan buatan (AI).
Saya teringat obrolan dengan seorang teman saat membeli makan di sebuah warung. Kami duduk di luar, menghadap jalan sambil melihat orang yang lalu lalang. Di tengah bisingnya kendaraan dan kerumunan manusia, teman saya tiba-tiba menceletuk, "Sekarang orang-orang kayaknya makin mirip ya?"
"Makin mirip gimana?" tanya saya penasaran.
"Ya, makin mirip. Lihat saja pakaian mereka, gaya bicara mereka... rasanya semua orang seragam, persis seperti apa yang sering kita lihat berseliweran di media sosial," jawabnya.
Saya melihat jauh ke sekeliling, memandang seraya memikirkan kata-kata itu. Sambil terus menyuap makanan, pikiran saya bergolak: Apa benar kita sudah sulit membedakan antara yang asli dan imitasi? Benarkah identitas kita telah tergilas oleh mesin bernama tren?
Lebih jauh lagi, saya bertanya-tanya: sebenarnya kita ini masih waras atau tidak? Masihkah kita bisa dikatakan waras di dalam dunia yang penuh dengan hoaks, kebencian, dan budaya pamer (flexing) yang akut? Sepertinya lensa batin kita memang sedikit rusak, sehingga pandangan kita menjadi buram dalam melihat sesuatu yang substansial. Kita dibuat lelah hanya untuk mengejar bayang-bayang semu.
Di dalam fotografi, ada istilah depth of field. Kita bisa memilih mana yang ingin kita buat tajam (fokus) dan mana yang ingin kita buat kabur (bokeh). Masalahnya, hari ini kita dipaksa oleh keadaan untuk melihat semuanya dengan standar ketajaman yang sama. Semua harus terlihat indah, semua harus terlihat sukses, semua harus terlihat 'waras' menurut ukuran algoritma. Kita kehilangan kemampuan untuk melihat kedalaman; kita hanya terpaku pada permukaan yang sudah dipoles sedemikian rupa.
Rasa jenuh itulah yang membawa saya kembali membuka lembaran Uqala Al-Majanin. Di sana, saya bertemu dengan mereka yang dunia cap sebagai orang gila, namun kata-katanya justru lebih tajam dari pedang dan lebih jernih dari mata air. Mereka tidak butuh pengakuan, tidak butuh filter estetik, apalagi validasi digital. Mereka ‘gila’ karena akalnya sudah melompat melampaui pagar-pagar duniawi yang kita bangun sendiri dengan penuh kepura-puraan.
Membaca kisah-kisah mereka seperti membasuh muka dengan air es di tengah siang yang terik. Mengejutkan, tapi menyegarkan. Mereka adalah subjek yang menarik jika saja saya bisa memotret melampaui waktu. Mereka tidak berpose. Mereka tidak peduli pada sudut pengambilan gambar. Mereka hanya ada, hadir sepenuhnya dengan kejujuran yang telanjang—sebuah kemewahan yang sulit kita temukan hari ini.
Tulisan ini bukan sekadar resensi buku, melainkan upaya saya untuk menyetel ulang fokus lensa kehidupan saya sendiri. Mari sejenak menanggalkan jubah ‘orang waras’ kita, dan belajar tentang kebijaksanaan dari mereka yang dianggap kehilangan akal. Ini adalah usaha saya untuk melakukan kalibrasi kewarasan.
Dan di sinilah perjalanan itu dimulai.
"Di bagian selanjutnya, saya akan mengajak teman-teman masuk lebih dalam ke lorong sejarah, menemui mereka yang dianggap gila namun memiliki kata-kata setajam pedang..."


Tidak ada komentar:
Posting Komentar